Permasalahan Pembelajaran Penjas dan Solusinya

0
permasalahan-pembelajaran-penjas-gurupenjascom

PERMASALAHAN PEMBELAJARAN PENJAS DAN SOLUSI PEMECAHAN MELALUI PENERAPAN MODEL PERMAINAN INOVATIF – Assalamu’alaikum dan salam sejahtera bagi seluruh pembaca. Kesempatan kali ini saya akan coba ajak rekan-rekan untuk berdiskusi tentang beberapa permasalahan pembelajaran penjas. Kebetulan topik ini yang sering dibahas di forum-forum guru penjas di Indonesia. Maka dari itu semoga tulisan ini bisa menambah wacana diskusi bagi rekan-rekan guru penjas. Kebetulan materi tulisan ini merupakan hasil observasi sekaligus laporan kritis dari kegiatan Magang Kependidikan (PPL) saya sewaktu masih kuliah dulu. Tidak ada salahnya kan saya bagikan di sini.

Permasalahan Pembelajaran Penjas

Berdasarkan hasil observasi yang saya lakukan. Ditemukan permasalahan kompleks yang terjadi pada siswa di kelas IV SD Negeri Karangasem 3 Surakarta. Dan tidak menutup kemungkinan juga terjadi di sekolah-sekolah lain. Permasalahan yang terjadi saya sebut kompleks karena apabila permasalahan itu terjadi. Maka akan mempengaruhi seluruh proses pembelajaran. Dan dampak yang terjadi tidak hanya bagi siswa yang mengalami permasalahan melainkan berdampak pula terhadap siswa lain satu kelas. Di sekolah yang saya observasi terdapat 34 siswa yang ada di kelas IV SD Negeri Karangasem 3 Surakarta. Terdiri dari 19 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Di dalam kelas tersebut terdapat berbagai sifat dan karakteristik dari anak sekolah dasar. Sebagaimana yang dikemukakan Santrock (2004:23), bahwa melalui sekolah dasar, anak untuk pertama kalinya belajar untuk berinteraksi dan menjalin hubungan yang lebih luas dengan orang lain yang baru dikenalnya, sehingga menyebabkan pertemuan berbagai karakteristik anak yang tidak bisa dihindarkan.

Jadi, pada masa usia sekolah dasar ini terdapat dua fase yang terjadi, fase pertama yaitu masa kelas rendah (usia 6 tahun sampai usia sekitar 8 tahun) atau bisa dikategorikan mulai dari kelas I sampai kelas III. Fase yang kedua adalah masa usia kelas tinggi (usia 9 tahun sampai kira-kira usia 12 tahun) atau bisa dikategorikan mulai kelas IV sampai kelas VI. Oleh karena kelas yang saya amati adalah kelas IV sehingga bisa dikategorikan sebagai kelas tinggi. Menurut Fuad (2008:68) karakteristik anak sekolah dasar kelas tinggi adalah a) Adanya minat terhadap kehidupan sehari-hari; b) Sangat realistik, ingin tahu, dan ingin belajar; c) Terdapat minat pada mata pelajaran khusus; d) Gampang bosan terhadap mata pelajaran apabila tidak sesuai dengan keinginannya; e) Gemar membentuk kelompok sebaya; dan f) Mengidolakan seseorang yang sempurna.

Dari karakteristik yang telah dikemukakan tersebut, jelaslah bahwa anak kelas tinggi memang mudah bosan dan gemar membentuk kelompok sebaya yang biasanya berdasarkan kesukaan yang sama. Berdasarkan kegiatan praktek mengajar terbimbing yang saya lakukan, hal tersebut sesuai dengan temuan masalah yang terjadi pada siswa kelas IV SD Negeri Karangasem 3 Surakarta. Mayoritas siswa pada saat pembelajaran atletik khususnya materi gerak dasar lokomotor (berjalan, berlari, melompat, dsb) setelah 15 menit pembelajaran berlangsung sudah mulai bosan dengan indikasi tidak konsentrasi mendengarkan instruksi dari guru dan juga mulai mengobrol dengan teman di sebelahnya.

Hal ini diperparah dengan karakteristik mereka pada poin “gemar membentuk kelompok sebaya” sehingga mengakibatkan obrolan yang dimulai oleh satu anak bisa meluas menjadi kelompok-kelompok kecil di kelas. Hal tersebut dapat berpengaruh negatif terhadap keberlangsungan pembelajaran, baik dalam pencapaian indikator kompetensi dasar pada khususnya maupun tujuan pembelajaran pada umumnya.

Masalah pada Materi Atletik

Salah satu hal yang menjadi pendukung terjadinya permasalahan pembelajaran penjas adalah pada materi gerak dasar lokomotor pada pembelajaran atletik, anak-anak sudah merasa mampu karena menurut mereka hanya berjalan, berlari, dan melompat adalah hal yang mudah. Sehingga kecenderungan siswa dalam menyepelekan materi gerak dasar lokomotor menjadi bertambah. Selain itu juga ketersediaan berbagai media pembelajaran PJOK yang ada di SD Negeri Karangasem 3 juga tidak bisa sepenuhnya menjadi daya tarik ataupun faktor penentu keberhasilan selama proses pembelajaran. Dengan adanya media pendukung khususnya pada materi gerak dasar lokomotor pembelajaran atletik siswa biasanya hanya fokus dan tertarik dengan materi pembelajaran kurang lebih sekitar 15 menit, selebihnya mereka cenderung sudah bosan dan mulai gaduh.

Dari informasi yang diberikan oleh Bapak Andrew selaku guru pamong dan juga guru mata pelajaran PJOK, di kelas IV memang menjadi salah satu kelas yang susah diatur apabila proses pembelajaran sudah tidak kondusif. Hal tersebut dikarenakan adanya beberapa anak yang menjadi provokator atas kegaduhan yang terjadi selama proses pembelajaran atletik. Terkadang juga sering terjadi apabila kelas mulai gaduh akibat dari kebosanan yang dirasakan beberapa siswa, mereka memprovokasi teman-teman yang lain untuk minta bermain saja, dan seringnya permintaan bermain siswa tersebut tidak ada kaitannya dengan materi pembelajaran. Sehingga proses pembelajaran pada materi tersebut rawan untuk tidak terlaksana dalam kaitannya pencapaian beberapa kompetensi dasar, karena anak sudah tidak fokus dan perhatian terhadap materi yang sedang berlangsung.

Idealnya ketika di sekolah, anak akan banyak belajar mengenai kecakapan hidup maupun ketrampilan untuk menghadapi derajat pendidikan selanjutnya. Berbagai kegiatan dan proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah akan mencapai tujuan yang diinginkan apabila kendala-kendala yang ada dapat diatasi dan tidak menjadi penghambat berjalannya proses pembelajaran. Namun apabila permasalahan-permasalahan yang telah saya paparkan diatas tidak segera dicari solusi pemecahannya, maka akan berdampak pada tidak tercapainya tujuan pembelajaran bukan hanya pada mata pelajaran PJOK khususnya, melainkan semua mata pelajaran di sekolah. Hal tersebut tentu akan sangat merugikan banyak pihak, mulai dari siswa, guru maupun pihak sekolah kaitannya dengan hasil belajar siswanya, karena jelas akan menghambat tercapainya tujuan pembelajaran. Oleh karena itu pentingnya upaya pemecahan untuk mengatasi permasalah tersebut dikaji bersama.

Solusi Permasalahan Pembelajaran Penjas Melalui Penerapan Model Permainan Inovatif

Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan, maka diperlukan upaya pemecahan agar permasalahan tidak berlarut larut yang berdampak bagi siswa dan orang lain. Dari berbagai upaya yang pernah dilakukan seperti menggunakan berbagai media agar antusiasme siswa meningkat, memberi hukuman kepada provokator di kelas, sampai dengan penerapan model pembelajaran yang menyenangkan sudah pernah dilakukan. Namun belum memperoleh hasil dan pengaruh yang signifikan terhadap keberlangsungan proses pembelajaran. Salah satu upaya yang hampir berhasil adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament).

Menurut Isjoni (2011:20) pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai suatu pendekatan mengajar di mana murid bekerja sama satu sama lain dalam kelompok belajar yang kecil untuk menyelesaikan tugas individu atau kelompok yang diberikan oleh guru. Pembelajaran kooperatif terdiri dari beberapa macam, yang pada kasus ini yang sudah pernah dieterapkan adalah model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament). Menurut Huda (2011:116) model pembelajaran kooperatif tipe TGT merupakan model pembelajaran dengan belajar tim yang menerapkan unsur permainan turnamen untuk memperoleh poin bagi skor tim mereka.

Sehingga harapan guru dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan antusiasme siswa selama proses pembelajaran PJOK khususnya materi gerak dasar lokomotor pada pembelajaran atletik. Permainan yang sering diterapkan adalah berbagai permainan yang menerapkan prinsip estafet. Dari beberapa kali penerapan permainan estafet tersebut ternyata hasilnya kurang efektif karena banyak siswa yang dari beberapa percobaan sudah hafal alur permainannya, sehingga terkesan monoton. Ada beberapa siswa yang memang antusias, namun segera teralihkan konsentrasinya akibat ulah provokator yang mudah bosan tadi, hasilnya proses pembelajaran kembali tidak kondusif.

Solusi Praktis Melalui Modifikasi Permainan Tic-Tac-Toe

Berdasarkan beberapa upaya dan berbagai kendala yang dialami tersebut, maka saya mengusulkan sebuah solusi pemecahan masalah yang masih ada kaitannya dengan model pembelajran kooperatif tipe TGT, yaitu penerapan model permainan Tic Tac Toe dalam proses pembelajaran. Permainan tic-tac-toe lebih dikenal dengan istilah Catur Jawa. Dalam permainan tic-tac-toe sangat unik karena bentuknya yang sederhana dengan hanya mengaplikasikan sebuah kotak 3×3 dan simbol “X” dan “O”. Pemain dikatakan menang apabila simbol telah tersusun membentuk garis diagonal, vertikal, atau horizontal (Prasetyo, 2015).

Adapun kelebihan dari permainan tic-tac-toe yaitu melatih siswa dalam menyusun strategi bermain, melatih siswa untuk teliti dan konsentrasi, melatih keterampilan sosial siswa dan berpartisipasi dalam pembelajaran secara aktif (Aycox, 1997). Sehingga dengan penerapan permainan tic-tac-toe dalam proses pembelajaran akan meningkatkan antusiasme dan konsentrasi siswa dalam mengikutinya sampai akhir pembelajaran. Karena dengan bermain permainan tic-tac-toe siswa dituntut untuk berkompetisi dan dan dibebani tugas secara dinamis dan variatif, sehingga tingkat kebosanan siswa selama proses pembelajaran akan berkurang dan bahkan hilang,

Dalam penerapan permainan tic-tac-toe pada mata pelajaran PJOK khususnya materi gerak dasar lokomotor ini tentu saja saya lakukan modifikasi mulai dari media permainan hingga aturan permainannya. Detail mengenai penerapan modifikasi permainan tic-tac-toe yang saya usulkan bisa rekan-rekan baca di tulisan saya > [Modifikasi Permainan Penjas Inovatif].

Demikian artikel tentang permasalahan pembelajaran penjas. Pertanyaan dan tanggapan sila tulis di kolom komentar atau bisa langsung [Hubungi Kami]. Mohon maaf apabila ada kesalahan tulisanmaupun pemahaman. Terimaksih atas perhatiannya, semoga membawa manfaat. Salam!

dasar-dasar-pendidikan-jasmani-gurupenjascom
Ilustrasi Dasar-dasar Pendidikan Jasmani

BAHAN RUJUKAN

  • Dananjaya, Utomo. (2013). Media Pembelajaran Aktif. Bandung : Nuansa Cendekia
  • Deka. (2011). Bermain Tic-Tac-Toe. Tersedia: [Online] https://id.wikihow.com/Bermain-Tic-Tac-Toe Diakses pada 28 Oktober 2017
  • Ira, Kusmirahayu. (2010). Kajian Mengenai Proses Pembelajaran Anak Sekolah Dasar. Tersedia: [Online] https://www.kompasiana.com/kusmirahayu/kajian-mengenai-proses-pembelajaran-anak-sekolah-dasar Diakses pada 29 Oktober 2017
  • Sadiman, As, dkk. (2014). Media Pendidikan : Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta : Rajawali Pers
  • Soetjiningsih. (1995). Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here